Categories
DUNIA PENULIS

Kobuku, Cerita di Balik Buku

Aku memulainya tanpa perlu menghitung hari baik. Urusan buku, aku berkeyakinan semua hari baik. Dan Kobuku pun buka, berjalan, dan akhirnya berhenti.

Jalan sempit tapi padat. Trotoar banyak rusak. Dan bangunan ukuran 3 x 6 meter menyelip di antara ‘ruko’ yang berderet. Di seberang jalan ada penjual mi ayam dan es degan. Sore hari, mi ayam itu sering menemani kami. Asyik.

Ada dua banner dipasang. Satu menggantung di depan, satu lagi kecil ditempel di dinding. Di tiap banner ada tulisan besar: Kobuku. Di dalam ada tumpukan buku yang ditata sederhana. Dua rak buku berisi buku-buku yang sebagian berdebu. Rak buku kecil khusus buku-buku bekas lama. Rak buku agak gede khusus buku-buku baru.

Ya, itulah Kobuku. Sebuah kios buku kecil di kota Bojonegoro. Pernah ada sekitar tahun 2014. Persisnya bulan apa, aku lupa. Kobuku menjual buku-buku murah, baru dan bekas. Aku suka banget duduk-duduk di kios. Sesekali ada orang datang. Kadang sekadar tanya buku, kadang juga membeli kalau-kalau ada yang cocok.

Di sini aku ngobrol dengan Tohir yang hampir tiap hari juga berada di Kobuku. Ngobrol tentang buku dan cerita-cerita renyah tentang tingkah para pembeli. Dari Kobuku, kami akhirnya mempunyai banyak pengalaman berjumpa dengan orang. Kebanyakan orang-orang yang mencari buku selalu berkisah. Dan kami akan mendengarkan kisahnya.

Semisal saat ada orang yang mencari buku tentang tenaga dalam. Kami kebetulan ada. Lalu dia akan bercerita tentang dirinya yang seorang pendekar, dimana ia berguru silat, mengasah tenaga dalam, dan lain. Di lain waktu ada orang datang, bertanya tentang buku lawas, lalu disodorilah buku-buku lawas. Lalu ia bercerita tentang buku-buku koleksinya. Kami menjadi pendengar yang baik.

Adakalanya kami harus berbusa-busa bercerita tentang buku-buku lawas. Rasanya senang sekali, bertemu dengan orang pecinta buku lawas. Saling bertukar cerita.

Tapi, ada saat-saat dimana aku merasa sepi, sendiri, dan terasing. Yakni ketika aku berpikir tentang hal-hal pragmatis yang seharusnya itu ikut menjadi bagian yang perlu kupikirkan serius. Yakni bisnis. Seperti kukatakan di awal, aku tak perlu perhitungan apapun untuk bisnis buku.

Satu tahun harga sewa Rp6,5 juta untuk ruang ukuran 3 x 6 meter. Tentu itu berat sekali bagiku. Menjelang akhir masa kontrak, aku sudah mulai berpikir untuk menutup toko buku. Bukan menutup Kobuku. Biarlah Kobuku “ada”.

Dan pada hari-hari itu, semua diurus oleh Tohir yang baik hati, termasuk memindahkan buku-buku tersebut. Aku, lebih tepatnya, tidak tega melihat nasib Kobuku, buku-bukunya, rak bukunya, dan segala hal yang ada di ruang sempit 3 x 6 meter itu. Dan kebetulan pada hari-hari itu, aku harus mulai bekerja menjadi buruh di sebuah pengeboran minya lepas pantai laut jawa. Dunia baru.

Apakah aku berpisah dari buku? Ternyata tidak. Berdekatan dengan buku adalah takdir. Dimanapun berada, aku selalu berhubung dengan buku. Sampai hari ini. Tidak aktif di Kobuku, aku membacai buku-buku, sesekali menulis tentang buku. Menerbitkan buku dan mendirikan penerbitan buku bersama teman-teman.

Buku adalah kawan berjuang melukis masa depan. Buku juga musuh yang kepadanya aku belajar untuk bersabar. Ya, buku adalah kawan sekaligus musuh, di kehidupan yang penuh gelak tawa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *