Categories
DUNIA PENULIS

Buku Melawan Air

Penulis: Nanang Fahrudin

Tentu saja tidak cuma saya saja yang pernah merasakan penderitaan macam ini. Buku rusak akibat terendam air.

Saya mengumpulkan buku-buku (sebagian besar buku lawas) sudah lama. Pernah juga menggeluti bisnis jual buku bekas. Dimanapun saya sempat tinggal, maka saya akan mengumpulkan buku satu demi satu. Mungkin ini semacam takdir, antara saya dan buku.

Tahun 2010 an saya di Jakarta. Tinggal di daerah Matraman, dekat Gramedia Matraman. Jalan kaki, lalu naik jembatan penyeberangan, dan sampai Gramedia. Di sini sering digelar obral buku murah. Seingat saya, Kitab Omong Kosong (Seno Gumira Ajidarma) dan Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan) cetakan awal saya dapat dari sini.

Pindah ke Surabaya tahun 2012 saya tinggal di kawasan Bratang. Tapi hampir tiap hari saya nongkrong di Kampung Ilmu Jalan Semarang. Nongkrongin buku-buku lawas. Tak terhitung berapa buku yang saya kumpulkan dari lapak-lapak buku di kampung ilmu ini.

Dan tahun 2016, saya mulai di Jogja. Tinggal di daerah Umbulharjo. Lagi-lagi saya menyukai berburu buku. Dan enggak selalu buku lama. Banyak buku baru yang coba saya kumpulkan dari uang di kantong yang selalu dicukup-cukupkan. Prinsip saya: seberapapun uang di kantong, jangan sampai tidak membeli buku. Ukuran waktu bisa fleksibel, bisa seminggu atau 2 minggu. Kalau sebulan tak beli buku, untuk saya, berarti itu sudah melewati batas kewajaran. Buku tak harus selalu mahal kan?

Nah, terbaru, saya harus ‘kehilangan’ buku akibat ‘dicuri’ oleh air. Pada musim hujan yang lalu, sekitar awal 2019, buku saya taruh di kamar kos. Lantaran saya yakin air tak akan masuk kamar, maka buku-buku saya biarkan di lantai dengan alas seadanya. Sebagian saya masukkan ke kardus. Kamar kos saya langsung menyatu dengan halaman bangunan kos.

Sialnya, saat saya tinggal, konon Jogja diguyur hujan. Sangat deras. Saya yang jauh dari kos tenang-tenang saja. Hingga akhirnya seminggu setelahnya saya balik ke kamar, membuka pintu dan….bau kertas bercampur air begitu menyengat. Saya panik. Melihat buku-buku menggelembung bekas terendam air. Saya ambil satu-satu dengan pelan, semoga saja masih bisa terselamatkan.

Saya teliti lagi mana buku yang tidak bisa diselamatkan dan mana buku yang masih bisa diselamatkan. Seingat saya, sebelum saya meninggalkan kamar kos seminggu lalu, saya membeli buku-buku murah lumayan banyak. Saya lihat, beruntung masih terbungkus plastik dan air tak sampai merusaknya.

Tapi yang lain? Saya coba merawatnya. Membuka acak halaman-halaman buku. Benar-benar rusak. Saya coba tak menyerah. Saya jemur di tempat terlindung dari sinar matahari langsung. Hasilnya? Tetap jauh dari berhasil. Buku memang harus benar-benar kalah oleh air.

Sampai kini, buku-buku itu masih saya simpan. Semua halamannya lengket. Tentu saja tidak layak baca. Tapi hendak membuang buku? Kok rasanya bagaimana gitu? Enggak tega. Solusinya, saya biarkan saja. Saya tumpuk di tempat agak terpisah dari buku-buku lain. Sesekali saya membaca halaman yang masih terbaca. Untuk apa? Entahlah. Tak selalu tanya perlu ada jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *