Categories
DUNIA PENULIS

Orang-Orang Gila Buku

Aku gila tapi aku tidak bodoh. Begitu konon Jacky Chan berujar. Gila tak selalu bermakna bodoh.

Orang-orang yang gila harta bukanlah orang-orang yang bodoh. Mereka adalah orang-orang terpelajar, dengan rumusan strategi yang jitu, dan kemampuan menimbang untung rugi. Ini sejalan dengan istilah-istilah yang populer di masyarakat kita, seperti gila hormat, gila pangkat, dan kegilaan-kegilaan lain.

Lalu, bagaimana dengan gila buku? Tentu orang-orang yang gila buku bukanlah orang-orang bodoh. Hanya, mungkin saja, mereka tidak berada pada batas wajar sebagaimana orang-orang pada umumnya dalam memperlakukan buku. Dan ini soal pilihan.

Samakah gila buku dengan gila harta? Bisa sama bisa tidak. Jika orang-orang yang gila harta akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh harta, maka orang-orang gila buku juga bisa berperilaku demikian.

Ingat kisah John Gilkey dalam buku The Man Who Loved Books Too Much yang dikarang oleh Allison Hoover Bartlett’s. Dalam buku tersebut Allison mengisahkan sosok Gilkey yang berpetualang mencuri buku-buku langka dunia. Untuk apa? Tentu untuk memenuhi hasrat cintanya pada buku yang begitu berlebihan. Dia memang akhirnya dipenjara. Tapi penjara tak melunturkan rasa cintanya pada buku. John Gilkey gila? Boleh dibilang ya, dia gila buku. Tapi John Gilkey bukan orang bodoh.

Mencintai sesuatu secara berlebihan tentu membuka peluang berperilaku di luar kewajaran. Dan hal-hal di luar kewajaran itulah yang dinilai sebagai sebuah kegilaan. Banyak orang mencintai buku yang berperilaku aneh karena saking cintanya pada buku.

Anda boleh percaya boleh tidak. Tapi setiap pecinta buku tidak akan keberatan bila dia dianggap gila. Karena cinta tak membutuhkan stigma, apakah waras atau gila. Hanya saja, kecintaan orang pada buku tentu berbeda-beda. Ada yang gila secara diam-diam, ada yang gila secara terang-terangan.

Mungkin ini terdengar berlebihan. Tapi, itulah fakta yang kutangkap. Aku pernah bertemu seseorang yang menyukai buku dengan cara gila. Dia punya cara untuk bisa mendapatkan buku-buku langka. Orang jawa menyebutnya laku. Ya, dia akan menyepi mencari petunjuk, dimanakah buku-buku itu bisa ditemukan. Petunjuk itu katanya hadir lewat mimpi. Keesokan harinya ia akan berangkat ke tempat sesuai petunjuk tersebut.

Di Jogja, ada penjual buku yang usianya sudah hampir 90 tahun? Apa dia kekurangan uang sehingga masih harus berjualan di usia begitu renta? Bukan. Anak-anaknya sudah melarangnya berjualan. Diminta untuk istirahat saja di rumah.

Tapi dia mengatakan “Buku itu hiburan. Ada yang beli senang sekali. Ada yang cuma baca senang sekali”. Laki-laki tua itu bernama Zulkarnaen. Tiap hari ia berada di tumpukan buku. Matanya cekung dimakan usia. Tapi masih terus membaca buku. Untuk apa?

Sebuah cinta tentu tak membutuhkan alasan bukan?