Categories
OBROLAN BUKU

Darmanto Simaepa, Tamasya Bola dan Piknik yang Tidak Biasa

Cukup banyak buku tentang sepakbola. Pada 5 tahun terakhir misalnya, sejumlah penulis sepakbola atau esais football writing bermunculan di Indonesia. Tapi, bagi saya, ada satu buku teramat menghentak. Buku itu berjudul Tamasya Bola: Cinta, Gairah dan Luka dalam Sepakbola.

Saya kira, buku itu ditulis tak sekadar menggunakan kata-kata, tapi juga mantra. Memang cukup sulit memahami bagi mereka yang kurang suka pada sepakbola. Tapi, bagi mereka yang suka bola, percayalah, ini buku tentang sepakbola yang sangat elegan untuk dibaca.

Penulisnya adalah Darmanto Simaepa, sebuah nama yang mungkin sangat jarang terdengar. Sebab, dia memang tidak fokus menulis. Darmanto fokus meneliti. Dia seorang peneliti. Tapi, cara dia menarasikan tulisan, benar-benar di atas rata-rata.

Buku setebal 400 halaman tersebut, dibagi menjadi 4 tema besar. Yakni; “Pesta & Gelak Sedih”, “Pe(r)sona”, “Kuasa & Politik”, dan “Tamasya”. Narasi dalam 4 tema itu, perpaduan antara kekayaan referensi dan kelihaian menarasikan cerita.

Simaepa menceritakan sepakbola sebagaimana menguliti kulit bawang merah: berlapis-lapis dan tak jarang memicu saraf air mata bergetar dan meniris tangis.

Sepakbola serupa pornografi, ia limbah kapitalisme yang dikutuk sekaligus dinikmati. Benar jika Darmanto mengatakan bahwa dunia terlalu kompleks dan sepakbola menjadi satu penawarnya. Sebuah penawar yang tak jarang justru memperlebar diameter luka.

Tamasya Bola adalah sebuah buku yang terhimpun dari esai-esai Darmanto yang sempat dipublish di sebuah blog bernama Belakang Gawang. Sebuah blog yang diisi dua penulis asal Lamongan, Darmanto dan Mahfud Ikhwan.

Sebagai akademisi yang disibukkan penelitian, esai-esai dalam buku ini tak sekadar melempar referensi lalu ditambahi cerita belaka. Namun juga analisis-analisis yang kadang mencuat keluar begitu saja.

Buku ini sangat tepat diberi judul Tamasya Bola. Sebab, meski kadang rumit dan tak jarang meminta pembaca mengernyitkan dahi, ia benar-benar mengajak piknik pembaca ke tempat-tempat yang mungkin belum terdengar namanya.

Pembaca bisa menemukan bahwa Simaepa menulis seperti sedang bertamasya. Dia menulis di mana-mana. Dari lembah-lembah terpencil di Mentawai hingga pasar Babat Lamongan, dari Yogyakarta hingga di Leiden, Belanda.

Di balik beragam tema dan konteks tulisannya, pendekatan yang ia bangun membuat tulisannya tak berjarak dengan realitas. Simaepa mengajak kita bertamasya tapi tidak melupakan nyawa penarasiannya: manusia. Ini bukan sekadar piknik.

Dalam “Tiga Tamasya Kecil ke Masa Lalu bersama ‘Bola’” (hal 343), Darmanto bisa membawa pembaca ke sebuah setting berupa kios toko dan pojokan pasar Babat Lamongan. Tempat dia menghabiskan masa kecil bersama sebuah majalah seken bernama Bola.

Barangkali, Darmanto memang sedang mengajak pembaca untuk benar-benar mengalami piknik. Dari tempat-tempat Nin jauh di daratan Eropa dengan berbagai macam istilah yang sangat asing di telinga, lalu dengan santai kembali ke Jakarta, Jogja, hingga sudut Kota Lamongan bersama para penjaja wingko babatnya.

oleh: wahyu rizkiawan